Belajar jadi Creativepreneur sejak kecil #ceritahomeschooling

belajar jadi creativepreneur sejak kecil

Belajar jadi Creativepreneur sejak kecil

Anak kecil jualan? 

Sekarang rasanya tidak asing lagi melihat banyak anak-anak yang sukses berjualan produk dan jasa dan menjadi entrepreneur sejak dini. 

Lihat saja contohnya si adek yang sedang viral ini. Di usianya yang baru kelas 4 SD, dia berani berjualan gambar secara online via salah satu ecommerce. Gambar yang dibuat pun bagus lho dengan harga yang terjangkau.

Siapa sangka gambar yang dibuatnya laku terjual dan banyak yang memesan. 

contoh creativepreneur anak SD kelas 4 yang berjualan gambar di e-commerce


Anak-anak berjualan, dulu dan kini

Tidak perlu kaget melihat si adek ini jualan gambar dan ada yang membeli. Masih banyak contoh entrepreneur muda yang sukses. 

Sebetulnya anak-anak jualan bukanlah hal baru. Dulu waktu aku sekolah SD dan SMP, banyak teman-teman yang berjualan. Ada teman yang jualan kertas binder bergambar lucu, pensil, permen, makanan, sampai jualan prakarya. 


Anak-anak berjualan sejak kecil adalah langkah awal jiwa entrepreneur
Ilustrasi anak-anak yang berjualan (Sumber: Canva)


Sayangnya jiwa entrepreneur ini keburu dipatahkan oleh para guru. Dulu kalau ada anak yang ketahuan berjualan di sekolah, pasti langsung dimarahi guru. Katanya sekolah itu bukan tempat jualan. Meskipun teman-teman waktu itu jualannya saat waktu istirahat dan pulang sekolah, tetap saja tidak boleh.

Aku sendiri juga keburu jiper pas lihat teman-teman dimarahi. Padahal aku sudah ada niat mau jualan makanan. 

Waktu SD dulu, Mommy selalu menyiapkan bekal sekolah yang lucu-lucu, ya semacam bento ya kalau zaman now. Sekolahku sendiri punya peraturan tidak boleh beli makanan di kantin, terutama untuk anak SD. Jadi aku tuh ngerasain makanan kantin cuma pas bagi raport sekolah aja. 

Kadang ada teman yang lupa bawa bekal dan aku suka berbagi. Aku dan teman-teman juga suka bertukar bekal dan hampir semua teman bilang kalau bekal sekolah aku enak. 


Berbisnis, salah satu pekerjaan mulia seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ

Berdagang adalah salah satu jenis profesi yang mulia, apalagi berdagang adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ 

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ « عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ »

“Ada yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Rasulullah ﷺ sendiri sudah menjadi pebisnis sejak muda dan sukses. 


Entrepreneur dan Creativepreneur, bedanya apa ya?

Pasti semua sudah tahu ya apa entrepreneur itu. Menurut Wikipedia, entrepreneur atau wirausahawan adalah seseorang yang melakukan aktivitas wirausaha yang dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun manajemen operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.


Lalu apa bedanya dengan creativepreneur? 


Creativepreneur merupakan gabungan dari dua kata: creative dan entrepreneur. 

Menurut marketing expert Llise Benun (2011), creativepreneur adalah individu yang memulai atau menjual bisnisnya menggunakan ide kreatif. Ada juga yang mendeskripsikan creativepreneur sebagai bisnis yang berbasis kreativitas. 

Karena dilandasi oleh kreativitas, creativepreneur berkembang pesat di era milenial ini dan banyak dijalankan oleh anak muda. 


Membangun jiwa entrepreneur dan creativepreneur sejak dini

Waktu Mas Deniz kena demam ninja (baca: tergila-gila dengan semua hal yang berbau ninja), mas Deniz membuat prakarya senjata ninja. 

Siapa sangka senjata ninja yang terbuat dari kertas bekas print ini ternyata banyak diminati teman-temannya di kompleks. 

Saat itu Zinan masih belum ikutan terpanggil jiwa bisnisnya. 

Alhamdulillah di PKBM tempat Zinan homeschooling sekarang, ada materi pemberdayaan creativepreneur yang wajib dipelajari semua warga belajar. 

Di pertemuan Microsoft Teams, tutor menjelaskan tentang apa konsep creativepreneur dan memberikan tugas kepada seluruh warga belajar untuk mencoba mencari ide bisnis. Nantinya, tugas ini akan dikumpulkan dan dinilai. 

Karena mas Zinan masih kelas 1 SD, tugas creativepreneur-nya hanya sebatas mencari ide bisnis dan mencari nama bisnisnya. Tetapi saat aku dan Zinan brainstorming ide jualannya, ternyata Zinan semangat sekali dan ingin benar-benar berjualan. 

Baiklah, karena semangat jualannya menggebu-gebu, aku inisiatif memberikan modal ke Zinan untuk dibelikan berbagai pulpen lucu di toko oren untuk nantinya dijual kembali. 

mendidik jiwa entrepreneurship dan creativepreneurship sejak kecil


Zinan juga dibantu mas Deniz saat mendesain logo jualannya. MasyaAllah, dari satu tugas creativepreneur ini, Zinan belajar banyak hal dan mengembangkan kemampuannya dalam berbagai bidang.

Walaupun tidak ada target khusus, jualan Zinan laris manis dibeli teman-teman dan saudara. Saat hasil penjualan dihitung, kami mendapatkan keuntungan yang lumayan dan balik modal. 

“Bunda, nanti uangnya buat amal saja ya,” kata Zinan. 

MasyaAllah terharu sekali saat Zinan bilang uangnya akan dibuat amal. Sedangkan uang modal dikembalikan ke aku untuk dibelikan pulpen lagi. 

Oya, perjalanan creativepreneur Zinan mulai dari mencari ide bisnis, menentukan nama toko dan logo, sampai berjualan semua ada di video ini. Jangan lupa ditonton ya!

***

Menjadi seorang pebisnis memang tidak mudah. Banyak tantangan yang akan dihadapi, apalagi saat bisnis semakin sukses. 

Dari Zinan aku belajar kalau menjadi seorang businessman/businesswoman itu harus pantang menyerah. Niatkan semuanya untuk Allah, insyaAllah jalan akan terbuka lebar selama kita percaya bahwa rezeki sudah diatur olehNya. 

Jadi, buat para mom and dad, nggak ada salahnya kita mulai mengenalkan creativepreneur pada anak-anak sejak kecil. Karena nanti ketika mereka besar, ini bisa menjadi bekal mereka untuk bersaing di dunia global. 

Sampai ketemu di tulisan berikutnya!

Tidak ada komentar