Yuk Jadi Nasabah Bijak, Bentengi Diri dan Saldo Rekening dari Kejahatan Siber

Apakah kamu sudah menjadi nasabah bijak? Tahukah kamu kalau kejahatan siber di dunia perbankan kini semakin marak? Kurangnya kewaspadaan dan literasi tentang keuangan bisa menyebabkan saldo rekening bank kamu dibobol lho. Duh jangan sampai ya.

jadi nasabah bijak untuk bentengi diri dan saldo rekening dari kejahatan siber

Di era teknologi yang semakin canggih dan terus berkembang, aktivitas masyarakat memang tidak jauh dari dunia digital, termasuk urusan keuangan. Adanya layanan perbankan seperti mobile banking, internet banking, dan e-money membuat transaksi keuangan mudah dan cepat. Namun, digitalisasi dalam perbankan menyebabkan oknum-oknum kejahatan siber semakin merajalela.

Pengalaman jadi korban kejahatan siber

Sebetulnya bukan saya langsung sih yang menjadi korban penipuan, melainkan Teteh Nur, asisten rumah tangga saya.

Sebagai orang yang tinggal di desa, Teteh tidak punya rekening tabungan. Jadi selama ini uang gajian Teteh selalu disimpan dalam bentuk tunai. Lalu suatu waktu saya tawarkan ke Teteh "Teh, bikin rekening bank aja ya, biar gaji nya bisa ditabung dan aman." Teteh pun setuju.

Kami pun pergi ke salah satu bank dan membuka rekening untuk Teteh. Saya juga sekaligus buatkan kartu ATM agar Teteh bisa melakukan transaksi dengan mudah.

Suatu hari, teteh menerima telepon tidak dikenal dan menginformasikan bahwa orangtua Teteh mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Teteh diminta untuk mentransfer sejumlah uang untuk keperluan pengobatan karena kondisinya kritis.

Faktor keluguan Teteh dan syok mendapat berita tentang orangtuanya membuat teteh sasaran empuk bagi pelaku. Teteh langsung bergegas ke ATM terdekat dan mentransfer uang ke pelaku. Teteh sempat mentransfer beberapa kali sebelum petugas keamanan menyadari kalau teteh jadi korban penipuan. Pak petugas keamanan pun langsung memutuskan sambungan telepon dan membantu teteh kembali pulang.

Sampai di rumah, teteh langsung menceritakan semuanya dan sepertinya masih berada dibawah pengaruh penipu. Untung saja rumah saya berdekatan dengan rumah ibu (saat kejadian, saya sedang bekerja). Ibu pun langsung menghubungi orangtua teteh di Subang untuk mengecek. Ternyata mereka sehat walafiat! Cerita orangtua teteh yang mengalami kecelakaan dan kritis hanyalah akal-akalan si penipu.

Qadarullah uang gajian teteh selama 3 bulan sudah keburu ditransfer. Teteh sedih sekali karena uang itu rencananya mau dipakai untuk merenovasi rumah. Namun saya dan suami mengingatkan bahwa yang terpenting adalah teteh aman dan orangtua Teteh sehat. Uang insyaallah bisa dicari lagi.

Meskipun teteh yang ditipu dan dikuras habis-habisan saldo rekeningnya, saya ikut merasakan pedihnya. Bayangkan uang yang susah payah dikumpulkan langsung raib begitu saja dalam hitungan menit.

Sektor perbankan adalah sasaran utama kejahatan siber di Indonesia

Teteh bukan satu-satunya orang yang mengalami penipuan semacam ini yang menyebabkan rekening bank bisa dibobol. Saya yakin banyak orang yang menjadi korban kejahatan siber lainnya di Indonesia. 

Mungkin teman-teman masih ingat nih dengan ramainya pemberitaan tentang kasus penipuan yang mengatasnamakan Bank BRI. Penipuan dilakukan lewat pesan singkat Whatsapp tentang perubahan tarif transfer sebesar Rp 150 ribu, yang sebelumnya hanya 6500 per transaksi.

Pelaku pun sudah siap dengan dokumen yang dibuat seakan-akan resmi. Di dalam pesan yang dikirimkan, pelaku juga melampirkan tautan di mana korban harus mengisi data pribadi dan data bank. Apabila korban masuk dalam jebakan ini, saldo rekening bank bisa dengan mudah dibobol pelaku.

penipuan lewat whatsapp tentang perubahan biaya transfer bank bri adalah hoax
Penipuan lewat whatsapp tentang perubahan biaya transfer bank BRI adalah hoax. 
 
Berdasarkan data, Indonesia termasuk salah satu negara yang rentan terhadap serangan kejahatan siber, terutama pada sektor perbankan.

Menurut Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, sepanjang kuartal II-2022 terdapat 5 ribu lebih serangan phising yang terjadi di Indonesia. Yang mengejutkan, ternyata lembaga keuangan menjadi sasaran utama dari serangan phising, lalu diikuti oleh e-commerce, media sosial, dan gim online.

Persentase Sebaran Serangan Phising di Indonesia Berdasarkan Sektor (Kuartal II-2022)
Lembaga keuangan menjadi sasaran utama kejahatan siber phising (sumber: Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri) 


Phising adalah salah satu bentuk kejahatan siber dengan modus berpura-pura menjadi lembaga sah dari jasa keuangan dan mengirimkan e-mail, telepon, atau pesan singkat untuk mengelabui korban agar memberikan data pribadi seperti nomor KTP, nomor rekening bank, dan nomor PIN. 

Social engineering, modus penipuan perbankan berbasis digital

Penipuan yang dialami Teteh dan juga berita hoax tentang perubahan tarif transfer bank BRI merupakan bentuk kejahatan siber yang disebut social engineering, atau dikenal juga dengan begal rekening (soceng).

Waduh. Begal ternyata tidak hanya ada di jalanan saja tetapi juga di dunia maya!

Social Engineering ini tidak ada hubungannya dengan jurusan teknik ya teman-teman. Soceng (rekayasa sosial) adalah salah satu bentuk penipuan dimana pelaku memanipulasi korban dengan memanfaatkan kesalahan manusia (human error) untuk mendapatkan informasi pribadi seperti nomor rekening bank, PIN ATM, dll.

Social engineering bisa dilakukan secara online, contohnya link hoax yang disebar melalui aplikasi pesan Whatsapp. Selain itu, social engineering juga bisa dilakukan lewat telepon seperti yang dialami Teteh, lewat sms, atau lewat cara lainnya.

Modus social engineering mengandalkan keberhasilannya pada kemampuan pelaku dalam memanipulasi korban. Pelaku rekayasa sosial memanipulasi korban secara psikologis dengan cara mempengaruhi pikiran korban lewat gambar, suara, atau tulisan. Selain itu, pelaku juga membuat seakan-akan kondisinya darurat (misalnya ada anggota keluarga yang kecelakaan dan kritis), sangat penting (perubahan biaya transfer bank), atau yang sifatnya kejutan (menang undian lomba) sehingga korban akan mengikuti perintah pelaku tanpa kecurigaan apapun. Tahu-tahu, saldo rekening sudah lenyap dikuras habis oleh pelaku.

Nggak kebayang gimana rasanya kalau ini terjadi. Uang yang sudah dikumpulkan susah payah untuk masa depan, entah itu untuk biaya pendidikan anak, untuk biaya nikahan, atau dana pensiun, hilang dalam waktu singkat.

Cara mencegah kejahatan siber bermodus Social Engineering agar saldo rekening aman

Siapapun pasti tidak mau mengalami hal ini. Oleh karena itu, kita perlu membentengi diri dengan cara menjadi nasabah bijak agar terhindar dari modus kejahatan siber social engineering.

Mau tahu bagaimana jadi nasabah bijak agar terhindar dari berbagai modus penipuan? Lakukan hal berikut ini agar saldo rekening kalian tetap aman.
  • Jangan pernah memberikan informasi data perbankan pada siapapun seperti password, username, PIN kartu ATM dan kartu kredit/debit, nomor OTP, nomor CVV/CVC pada bagian belakang kartu, dan nomor dan expired date kartu ATM.
  • Jangan angkat telepon atau langsung tutup telepon dari nomor yang tidak dikenal yang mengaku CS bank, asuransi, fintech, e-commerce, atau provider telepon yang meminta data pribadi seperti KTP atau kartu debit/kredit.
  • Jangan membuka tautan yang mencurigakan dan jangan mengunduh dokumen tak dikenal. Selalu periksa alamat tautan sebelum mengklik.
  • Waspada ketika menerima kode OTP lewat SMS atau email dan kalian tidak sedang melakukan transaksi apapun. Abaikan saja ya.
  • Jangan ikut-ikutan trend memposting tanggal lahir, nama ibu kandung, atau berfoto dengan KTP kalian di media sosial. Selalu jaga kerahasiaan data pribadi kalian.
  • Jangan instal aplikasi yang tidak jelas dan selalu instal lewat sumber yang terpercaya seperti Google Play Store dan Apple Store.
  • Berikan pengamanan ekstra pada smartphone yang kalian gunakan dengan menginstal anti-virus, firewall, dan filter email dan melakukan update secara berkala.
  • Segera laporkan aktivitas atau tautan yang mencurigakan ke nomor kontak resmi bank.
cara menjadi nasabah bijak agar transaksi perbankan tetap aman


Bagi teman-teman yang merupakan nasabah Bank BRI, BRI tidak pernah melakukan update data nasabah melalui SMS, telepon, ataupun email ya. Seluruh informasi layanan BRI selalu disampaikan lewat akun resmi BRI yang sudah terverifikasi/centang biru yaitu website www.bri.co.id, Instagram @bankbri_id, Twitter @bankbri_id @kontak_bri @promo_bri, Facebook Bank BRI, Youtube Bank BRI, dan Tiktok Bank BRI.

Apabila kalian mendapatkan aktivitas atau link mencurigakan yang mengatasnamakan BRI, langsung saja laporkan ke contact center BRI di nomor 14017/1500017 atau melalui email callbri@bri.co.id.

Teman-teman juga bisa membantu mencegah kejahatan siber dengan menjadi Penyuluh Digital dengan cara memberikan edukasi terkait literasi keuangan dan keamanan saat melakukan transaksi perbankan secara digital. Penyuluh digital bisa memberikan edukasi dengan berbagai cara, misalnya berbagi tips menghindari penipuan lewat media sosial pribadi dan menulis di blog seperti yang saya lakukan ini. Insyaallah dengan jadi Penyuluh Digital, pahala pun bertambah. 

Kesimpulan

Teknologi digital di dunia perbankan akan terus berkembang, dan para pelaku kejahatan siber akan terus mencari celah untuk bisa menjebak korbannya. Untuk melindungi diri dan rekening bank, yuk kita belajar menjadi nasabah bijak. Selalu waspada dan jangan pernah bosan untuk menambah pengetahuan tentang keuangan agar bebas dari penipuan ya.

Apakah teman-teman ada yang pernah mengalami kejahatan siber seperti yang Teteh alami? Apa yang kalian lakukan? Kira-kira hal apa lagi yang bisa kita lakukan agar terhindar dari begal rekening? Share di kolom komentar ya!

13 komentar

  1. Waaah.. Terima kasih sudah diingatkan mba Tya. Semoga kita & orang-orang terdekat terlindungi dari segala macam kejahatan siber. 🥲

    BalasHapus
  2. Modus telpon anak sakit atau anak ditangkep polisi sampe sekarang masih ada lho. Teman ibu saya sempat panik karena ditelpon penipu yang bilang anaknya digrebek narkoba. Hampir buka m banking buat transfer, untung ada anak pertamanya yang jeli dan cegah penipuan itu. Hati-hati selalu yaaa

    BalasHapus
  3. Begal sudah makin marak, dan sekarang ada begal rekening yang merajalela mencari korban². Semoga makin banyak sosialisasi agar kita bisa jadi nasabah bijak dan terhindar dari soceng ini.

    BalasHapus
  4. Saat ini memang perlu waspada, menjaga kerahasiaan data pribadi. Agar tidak terhindari dari tindak kejahatan berbasis teknologi.

    BalasHapus
  5. Pak suami juga pernah hampir ketipu sama oknum yang mungkin sudah lihai dalam urusan kejahatan siber, memang musti waspada sih

    BalasHapus
  6. Astagfirullah, turut sedih atas musibah teteh semoga Allah menggantinya yaa. Betul yang terpenting teteh dan keluarga sehat, uang insyaallah bisa datang lagi. Semoga kita semua terlindungi dari kejahatan cyber,aamiin

    BalasHapus
  7. Dunia digital yang semakin berkembang, sisi gelapnya membuat kejahatan siber juga bermunculan. Makanya memang perlu tau nih antisipasinya. Termasuk upaya kita menjadi nasabah bijak

    BalasHapus
  8. terima kasih Tya untuk pengingatnya, semoga kita dijauhkan dari kejahatan siber perbankan ya

    BalasHapus
  9. Sedih banget ya denger banyak orang yang tertipu - dengan cara aneh aneh pastinya!

    Ada yang OTP - ada yang hipnotis telepon .. ada yang SMS atau Whatsapp juga tertipu! Semoga kita terhindar dari penipuan ini

    BalasHapus
  10. Phising di perbankan gak berhenti-berhenti, ya. Duluuu banget ibuku pernah ditelepin kayak gitu juga tapi bilangnya kakakku yang kecelakaan. Belum lama mertuaku pun dapat telepon katanya adik iparku ketangkap polisi dan butuh biaya. Aku juga sempat dapat WA yang ngaku-ngaku dari BRI itu.. Kalau org yang gak ngerti bisa kena.. Mesti waspada terus nih kota buat hal-hal kayak gini.. Semoga Teteh Nur tadi bisa dapat rezeki pengganti setelah uangnya hilang yaa.. Aamiin..

    BalasHapus
  11. Pentingnya untuk selalu siaga sebagai nasabah BRI. Beberapa waktu lalu saya juga sering menghadapi sms penipuan mbak seperti ini.

    BalasHapus
  12. Beberapa bulan kebelakang pernah mengalami kejahatan siber, walaupun tidak terlalu besar uang yang hilang tetapi tetap saja ada rasa kesal dan sudah pasti jadi lebih berhati-hati lagi

    BalasHapus
  13. Dari dulu kejahatan siber gak hilang-hilang, ya. Jadi harus kita sendiri yang lebih waspada. Tidak sembarangan kalau dapat SMS atau telepon yang Mengatasnamakan bank.

    BalasHapus