Homeschooling, siap nggak ya?

Assalamualaikum,

Tidak seperti kebanyakan teman-teman seumurannya, dari kecil mas Deniz memang tidak pernah dipaksa untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Alasannya sederhana, saya (mom) tidak mau membebani anak melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan. Selain itu saya percaya bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda.

Saat mas Deniz masuk TK, dia termasuk yang paling lemah kemampuannya terutama soal akademik seperti menulis dan membaca. Well, nggak heran sih karena memang saya tidak pernah mengajarkan kedua hal tersebut secara khusus. Awalnya masih cuek-cuek aja sampai gurunya berkomentar kalau mas Deniz harus belajar baca tulis untuk mengejar ketinggalannya. Di sini saya mulai galau, waswas. Apakah keputusan saya dan suami salah soal mendidik anak? Belum lagi desakan dari orangtua yang memaksa kami untuk memasukkan mas Deniz tempat les agar tidak semakin ketinggalan.

Guru di sekolah juga berkomentar kalau mas Deniz itu kurang fokus. Memang mas Deniz ini gampang sekali tergoda, kalau ada gangguan sedikit pasti konsentrasi langsung buyar. Ini juga yang membuat mas Deniz ketinggalan soal pelajaran di TK. Satu-satunya materi/pelajaran yang mas Deniz bisa fokus adalah art. Kalau sudah menggambar dan berkreasi, mas Deniz betah berlama-lama. Sudah tidak terhitung banyaknya kertas yang dia gunting, banyaknya kotak-kotak pembungkus yang dia ubah jadi benda lain entah robot atau wadah.

Deniz dengan salah satu hasil karyanya, noodle monster



Hasil karya Deniz menggambar menggunakan program Paint di komputer.

Tidak lama lagi mas Deniz akan masuk sekolah dasar, tepatnya tahun depan. Di saat para orangtua galau memilih sekolah mana yang paling pas untuk anak mereka, kami justru galau memutuskan apakah mas Deniz perlu masuk sekolah konvensional atau sekolah rumah (homeschooling) saja.

Kok kepikiran sih mau sekolah rumah? Nggak takut anak nanti nggak punya masa depan? Apalagi pendidikan di Indonesia masih mengagungkan prestise lembaga pendidikan. Misalnya saja, ketika si anak masuk ke sekolah favorit, orang lain akan langsung berasumsi si anak terjamin masa depannya (ini terlihat sekali soal pendidikan tinggi seperti universitas). Ini adalah komentar yang paling sering terucap ketika saya bercerita tentang rencana homeschooling. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Tidak selamanya anak yang menempuh pendidikan lewat sekolah konvensional sukses.

Ada beberapa alasan utama kenapa saya dan suami memutuskan untuk meng-homeschooling-kan mas Deniz.

1. Fokus pada kelebihan/kesukaan anak. 
Seperti yang sudah saya tulis, mas Deniz selalu excited dengan kegiatan seni seperti menggambar, melukis, dan membuat prakarya. Tentu saja kalau mas Deniz masuk ke sekolah konvensional, skill ini tidak akan terlalu dieksplorasi karena ada skill wajib lainnya yang harus didahulukan. Dengan homeschooling, mas Deniz bisa menyalurkan bakatnya dalam bidang ini lebih dalam tanpa terkekang jadwal seperti di sekolah konvensional. 

2. Belajar sesuai kecepatan penerimaan anak. 
Berbeda dengan seni, mas Deniz cukup lambat menerima pelajaran yang sifatnya kaku seperti menghafal doa dan surat pendek. Faktornya bisa jadi cara menghafal yang kurang fun atau lainnya (ini masih dalam observasi lebih lanjut). Dengan homeschooling, cara menghafal bisa dilakukan dengan fun sesuai karakter anak dan target bisa ditetapkan sesuai kemampuan anak.

3. Belajar dengan cara menyenangkan dan disesuaikan dengan gaya belajar. 
Tiap anak punya gaya belajar yang berbeda. Ada yang cepat belajar dengan cara mendengar (auditori), melihat (visual), atau langsung praktek. Di sekolah konvensional dengan jumlah murid yang cukup banyak tentunya kurang mengakomodir ini dan menyebabkan anak mungkin kurang bisa menerima pelajaran. Dengan menerapkan homeschooling, saya dan suami bisa mengajarkan mas Deniz sesuai dengan gaya belajar mas Deniz sehingga belajar jadi menyenangkan dan bukan jadi beban.


Masih banyak lagi alasan lainnya kenapa saya dan suami berani memutuskan untuk memulai homeschooling. Balik ke judul tulisan ini, siap nggak ya menjalankan HS? Kalau ditanya siap atau tidaknya, mau tidak mau harus siap. Hasil sharing dengan teman-teman yang telah menjalankan HS mengatakan bahwa kuncinya adalah start it now. Langsung jalankan HS. Nanti dari situ kita akan tahu celahnya sampai dapat 'klik’nya.

Kembali lagi, kami sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kami. Rasanya tidak ada orangtua yang mau menjerumuskan anaknya ke hal yang tidak baik. Jadi,  mohon doa dan dukungannya ya.  Bagaimana dengan moms dan dads? Jangan sungkan untuk berbagi cerita di kolom komentar di bawah ini ya.

Salam,

7 komentar

  1. Selamat ber-home schooling mas Deniz.

    BalasHapus
  2. Aku dan suami dulu, rencana homeschooling si Arya. Tapi, karena beberapa hal tentang bersosialnya Arya, akhirnya kami batal ber-HS

    BalasHapus
    Balasan
    1. HS memang tergantung kebutuhan anak ya mbak Ria, jadi nggak bisa pukul rata semua anak bisa HS

      Hapus
  3. Kalo dari penjabaran Tya ini.. Deniz ini mirip sama anak pertamaku. Dia juga lebih suka art. Pas TK juga dia ketinggalan bgt di bidang menulis dan membaca. Untungnya TKnya dia gak terlalu memaksakan itu. Sementara temen2nya pada ikutan les tambahan calistung, anakku asik main di rumah. Dan ketika masuk SD, dia ketinggalan banget. Itu awalnya. Sekarang, dia sudah mulai bisa mengejar ketinggalannya. Untuk baca tulis, perlahan dia sudah mulai lancar. Dia juga suka berlatih sendiri di rumah. Segala dia coba baca. Dari buku cerita anak-anak sampai buku tentang kesehatan anak punya ibunya. Hehehhee..

    Dan mengenai art, memang kelihatan anakku lebih menonjol dibidang itu. Memang disekolahnya gak terlalu di tekankan. Tapi kita rencananya mau masukin dia ke tempat les gambar supaya bisa lebih di eksplor lagi sisi art dia.

    Sebetulnya kalau mau ikut kata hati sih pengennya homeschooling aja. Tapi dengan sumbu sabar mamaknya yang tipis plus mamaknya juga kurang kreatif, jadilah.. Dia sekolah biasa aja. :)

    BalasHapus